23 Apr 2009

Damai Pemilu

Akhir-akhir ini suhu politik di Indonesia makin memanas pasca pemilu legislatif kemarin. Komentar-komentar yang dilontarkan oleh para elit politik dan tokoh di negeri ini membuat kita rakyat kecil was-was, apakah pilpres mendatang akan aman....

Sebagai rakyat kecil yang tidak tahu politik hanya berharap agar semua elit politik tidak membuat manuver yang berlebihan sehingga memancing keributan. Setelah pemilu legislatif, banyak pro dan kontra mengenai hasil penghitungan suara hingga masalah DPT yang tidak akurat. Kelemahan dan kesalahan ini yang membuat para pemimpin politik yang merasa dirugikan banyak membuat statment di media.

Belum lagi masalah hasil penghitungan suara yang lambat dan masalah DPT selesai, minggu-minggu ini kita disuguhi berita mengenai para elit politik yang berkoalisi dengan partai politik lain. Banyak statment bermunculan di media dan para analis politik yang memiliki pendapat beragam.

Apapun keputusan partai politik dan kebijakan untuk berkoalisi dalam perebutan kursi presiden mendatang, rakyat hanya tahu bahwa nantinya presiden yang terpilih mampu memenuhi aspirasi dan keinginan rakyat.

Saat ini seyogyanya elit politik tidak perlu membuat statment yang berlebihan dan hendaknya menahan diri. Bagaimanapun rakyat kini sudah mengerti dan tidak bisa dibohongi lagi, mana pemimpin yang layak untuk dipilih dan bisa membawa kemakmuran rakyat. Rakyat perlu bukti nyata dari para pemimpin politik dan bukan sekedar janji-janji.

Ingat, ketika rakyat sudah dibohongi maka selamanya rakyat sudah tidak akan percaya lagi. Sebaliknya jika pemimpin berhasil membawa perubahan bagi bangsa ini, rakyat akan percaya dan akan mendukung.

Mudah-mudahan negeri ini tetap aman dan kondusif jelang pemilihan presiden....Semoga

9 Apr 2009

Contreng...contreng..dan contreng...

Hari ini adalah hari pemilu untuk pemilihan legislatif. Masyarakat Indonesia semua berdatangan ke TPS untuk "mencontreng" ( istilah sekarang ) bagi wakil rakyat yang akan dipilihnya. Dari pengalaman Pemilu pada tahun-tahun sebelumnya, pemilu kali ini yang saya anggap bikin repot panitia pemilu ( panitia TPS ) dan tentunya masyarakat yang akan "mencontreng".

Kerepotan diawali ketika pemilih akan menggunakan hak pilihnya di "bilik" suara. Dengan ruang yang sempit pemilih harus membuka lebar-lebar kertas suara yang terdapat begitu banyak gambar partai dan foto caleg.

Setelah ketemu gambar partai yang dipiih dan nama calegnya, kerepotan yang kedua adalah ketika pemilih akan melipat kertas suara. Begitu repotnya melipat kertas suara yang begitu lebar namun dengan ruangan yang sempit agar supaya orang lain tidak melihat hasil yang kita pilih. Berbeda dengan dahulu, dimana bilik suara menggunakan ruangan yang tertutup rapat sehingga kita dengan leluasa melipat kertas suara tanpa khawatir orang lain mengetahuinya.

Kereotan yang ketiga adalah ketika panitia TPS menghitung surat suara. Panitia harus secara seksama "memelototi" surat suara mulai gambar partai dan nama caleg yang di contreng oleh pemilih dari lembar pertama hingga lembar ketiga.

Pencatat hasil suara juga tidak kalah repotnya, setiap hasil suara yang dibacakan oleh panitia pencatat suara harus membolak-balik kertas penghitungan suara sesuai nama partai dan nama caleg yang dicontreng.

Ya...inilah Pemilu kali ini...contreng..!! contreng..!!